Metode Penelitian Kebudayaan

 

tumblr_static_tumblr_static_crbfga5jtk0k4wsog40g04soc_640

Metodologi dan Metode Penelitian

Tugas akhir mata kuliah metode penelitian kebudayaan C

Siti Fauziyah Az’zahra / F21115326 / Sastra Inggris

 

Metode (method), secara harfiah berarti cara. Selain itu metode atau metodik berasal dari bahasa Greeka, metha, (melalui atau melewati), dan hodos (jalan atau cara), jadi metode bisa berarti jalan atau cara yang harus di lalui untuk mencapai tujuan tertentu.

Secara umum atau luas  metode atau metodik berarti ilmu tentang jalan yang dilalui untuk mengajar kepada anak didik supaya dapat tercapai tujuan belajar dan mengajar. Prof. Dr.Winarno Surachmad (1961), mengatakan bahwa metode mengajar adalah cara-cara pelaksanaan dari pada murid-murid di sekolah.Pasaribu dan simanjutak (1982), mengatakan bahwa metode adalah cara sistematik yang digunakan untuk mencapai tujuan.

Metode adalah prosedur atau cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan tertentu. Kemudian ada satu istilah lain yang erat kaitannya dengan dua istilah ini, yakni tekhnik yaitu cara yang spesifik dalam memecahkan masalah tertentu yang ditemukan dalam melaksanakan prosedur.

Metodologi penelitian adalah sekumpulan peraturan, kegiatan, dan prosedur yang digunakan oleh pelaku suatu disiplin ilmu. Metodologi juga merupakan analisis teoritis mengenai suatu cara atau metode. Penelitian merupak an suatu penyelidikan yang sistematis untuk meningkatkan sejumlah pengetahuan, juga merupakan suatu usaha yang sistematis dan terorganisasi untuk menyelidiki masalah tertentu yang memerlukan jawaban.

 

Kedua istilah ini telah dijelaskan oleh Prof. Muslim Salam dalam buku Dialog PARADIGMA METODOLOGI PENELITIAN SOSIAL yang mengakatakan bahwa secara etimologis maupun secara konseptual-metodik sangatlah berbeda. Secara sederhana batasan terhadap kedua istilah tersebut secara tegas dan jelas bahwa metode penelitian membahas tentang konsep teoritik berbagai metode penelitian, begitupula kelebihan dan kekurangan masing-masing metode. Sementara, metode penelitian mengulas secara teknis tentang metode-metode yang digunakan dalam suatu penelitian.

Metodologi lebih berdimensi science of method, yang sejajar dengan istilah biologi, arkeologi, sosiologi dan lain-lain. Sedangkan istilah metode penelitian merujuk pada resear tools; tidak lebih hanya sebagai prosedur belaka yang bisa dipertukarkan dengan kata teknik, cara, prosedur, dan tata cara.

  1. Defenisi dan Karakterstik Penelitian Kualitatif

Penelitian Kualitatif menurut para ahli sebenarnya tidak terlalu memiliki perbedaan yang signifikan, meskipun secara redaksional berbeda, namun memiliki kesamaan makna. Penelitian kualitatif adalah jenis penelitian yang memfokuskan pada aspek pemahaman secara mendalam atas suatu permasalahan. Penelitian Kualitatif merupakan penelitian yang sifatnya deskriptif dan cenderung menggunakan analisis serta lebih menonjolkan proses dan makna daripada hasil. Tujuan dari penelitian Kualitatif ini ialah pemahaman secara lebih mendalam terhadap suatu permasalahan yang dikaji. Adapun defenisi Prof. Muslim Salam dalam buku Metodologi Penelitian Kualitatit : Menggugat Doktrin Kualitatif mengemukakan bahwa penelitian kualitatif memberikan fokus perhatian pada karaketeristik realitas secara sosial dikonstruksi pada hubungan yang dekat antara peneliti dengan dan apa yang dikajinya serta situational constraints ( restriksi situational ) yang mempengaruhi suatu penelitian.

Selain itu, penelitian kualitatif merupakan desain penelitian guna mengungkap seputar perilaku dan persepsi manusia mengenai topik atau masalah tertentu. Hasil penelitian kualitatif bersifat deskriptif, bukan prediktif. Metode penelitian kualitatif berangkat dari asumsi-asumsi dalam teori sosial dan teori behavioristik, termasuk sosiologi, antropologi, dan psikologi. (Qualitative Research Consultnts Asspciation). Oleh karena itu, penelitian kualitatif bertujuan guna mendapatkan pemahaman ang mendalam melalui pengalaman responden pertama, pelaporan secara jugur, dan transkrip percakapan yang sebenarnya/valid. Penelitian kualitatif berusaha memahami bagaimana responden memperoleh makna dari lingkungan mereka dan bagaimana makna tersebut mempengaruhi tindakan/tingkah lakunya. Sedangkan karakteristik dari penelitian kualitatuf adalah sebagai berikut :

Karakteristik Bodgan & Biklen Eisner Merriam
Natural setting ( field focused ) sebagai sumber data Ya Ya Ya
Peneliti sebagai instrumen kunci dalam pengumpulan data ya ya
Data yang dikumpulkan berupa ungkapan ( words ) atau gambar Ya ys
Hasil ( outcome ) lebih dimaknai sebagai suatu proses daripada sebagai suatu produk Ya Ya
Analisis data secara induktif ,perhatian pada hal-hal khusus Ya Ya Ya
Makna difokuskan pada perspektif partisipan ( informan ) Ya Ya Ya
Penggunaan bahasa yang ekspresif Ya
Persuasif ( persuasion by reason ) Ya

Sumber : Cresswell ( 1998 :16 )

Cresswell menyajikan perspektif data yang berbeda tentag karakteristik penelitian kualitatif dari tiga ahli –Bodgan & Biklen, Eisner dan Merriam –tentang karakteristik penelitian kualitatif pada tabel diatas. Pada tabel tersebut terlihat ada 3 karakteristik yang menonjol, yang disepakati oleh tiga ahli , dalam penelitian kualitatif . ketiganya sepakat bahwa “natural setting” sebagai sumber data, analisis data secara induktif dan makna difokuskan pada perspektif partisipan, merupakan karakteristik utama penelitian kualitatif. Berbeda dengan karakteristik lainnya. Sebagai contoh, pengguna bahasa yang ekspresif dalam studi-studi kualitatif hanya dikemukakan oleh Eisner; tidak oleh Bodgan&Biklen maupun Merriam.

  1. Perbandingan Metode Kualitatif dan Kuantitaif

Metode penelitian kuantitatif dan kualitatif memiliki tujuan yang sama yakni ingin menjelaskan dan memahami realitas sosial, namun dengan cara dan gayanya masing-masing. Perbedaan pokoknya terletak pada: data yang digunakan, prosedur  penelitian yang dijalankan, penggunaan teori (peran teori tidak sama pada masing-masing metode penelitian), dan karakter hasil dan kedalamannya. Kuantitatif sama sekali tidak berbicara kedalaman makna karena ia hanya menjelaskan realitas secara makro, di permukaan saja, sedangkan kualitatif menjelaskan realitas sosial secara mendalam.

Pertanyaan yang menjadi sesi ini adalah salah satu pertanyaan mendasar dan substansial dalam diskusi dan perdebatan antara para peneliti positivistic methodologydan interpretative/constructivist methodology.Mack, dkk., secara tegas menyatakan bahwa perbedaan utama antara metode penelitian kuantitatif dan kualitatif :

  1. Tujuan analisisnya
  2. Jenis pertanyaan yang dipertanyakan
  3. Jenis instrumen pengumpulan data yang digunakannya
  4. Bentuk data yang dihasilkannya
  5. Tingkat fleksibilitas yang dibuat dalam desain penelitiannya

Berdasarkan pernyataan Marck tersebut maka muncullah pertanyaan, Apa yang paling utama yang membedakan antara metode kuantitatif dan kualitatif. Mack, dkk., berpendapat bahwaperbedaan utama yang membedakan keduanya adalah “fleksibilitas”. Secara umum , metode kuantitatif relatif tidak fleksibel. Dengan metode kuantitatif seperti survey dan kuesioner ,sebagai contoh , para peneliti menanyakan kesemua partisipan pertanyaan yang sama dengan urutan yang sama pula. Kategori respon dari pertanyaan yang dapat dipilih partisipan bersifat “closed-ended. Sedangkan metode kualitatif dicirikan dengan “lebih fleksibel”, dimana metode tersebut memungkinkan spontanitas dan adaptasi serta interaksi yang lebih luwes antara peneliti dan partisipan. Sebagai contoh, metode kualitatif menggunakan pertanyaan “open-ended” yang tidak harus sama persis untuk setiap partisipan.

 

 

Kebudayaan adalah seni sekaligus nilai, norma, dan benda simbolis kehidupan sehari-hari. Sementara kebudayaan terkait dengan tradisi dan reproduksi sosial, ia juga merupakan soal kreativitas dan perubahan.

Kebudayaan terdiri dari 2 aspek yaitu: makna dan tujuan yang diketahui. Di mana anggotanya terlatih untuk itu; pengamatan dan makna baru yang ditawarkan dan diuji. Semua itu merupakan proses biasa masyarakat manusia dan pikiran manusia, dan melalui mereka kita melihat sifat kebudayaan: dia selalu bersifat tradisional dan kreatif; keduanya merupakan makna paling umum dan makna individual yang paling halus. Kita memakai kata kebudayaan bedasarkan dua logika: sebagai keseluruhan cara hidup, yakni kebudayaan dengan makna umum; sebagai seni dan pembelajaran, yakni kebudayaan sebagai proses penemuan dan usaha kreatif yang khusus. Beberapa penulis memaknai kata ini dalam pengertian ini atau yang lain; saya meyakini keduanya, dan arti penting kombinasinya. Pertanyaan yang saya ajukan tentang kebudayaan kita adalah pertanyaan tentang tujuan umum atau tujuan biasa kita, namun juga pertanyaan tentang makna  mendalam dan personal. Kebudayaan itu adalah hal-hal biasa yang ditemukan dalam keseharian di semua masyarakat dan disetiap pikiran. (Williams, 1989: 4)

 

 

  •   Hubungan Cultural Studies ( CS ) dengan Teori-Teori Sosial

 

Dalam kajian budaya atau Cultural Studies (CS), konsep budaya dapat dipahami seiring dengan perubahan perilaku dan struktur masyarakat di Eropa pada abad ke-19. Perubahan ini atas dampak dari pengaruh teknologi yang berkembang pesat. Istilah budaya sendiri merupakan kajian komprehensif dalam pengertiannya menganalisa suatu obyek kajian. Contohnya, selain ada antropologi budaya juga dikaji dalam studi Sosiologi, Sejarah, Etnografi, Kritik Sastra bahkan juga Sosiobiologi. Fokus studi kajian budaya (CS) ini adalah pada aspek relasi budaya dan kekuasaan yang dapat dilihat dalam budaya pop.

Di dalam tradisi Kajian Budaya di Inggris yang diwarisi oleh Raymonds Williams, Hoggarts, dan Stuart Hall, menilai konsep budaya atau “culture” (dalam bahasa Inggris) merpakan hal yang paling rumit diartikan sehingga bagi mereka konsep tersebut disebut sebuah alat bantu yang kurang lebih memiliki nilai guna. Williams mendefinisikan konsep budaya menggunakan pendekatan universal, yaitu konsep budaya mengacu pada makna-makna bersama. Makna ini terpusat pada makna sehari-hari: nilai, benda-benda material/simbolis, norma. Kebudayaan adalah pengalaman dalam hidup sehari-hari: berbagai teks, praktik, dan makna semua orang dalam menjalani hidup mereka (Barker, 2005: 50-55).

Kebudayaan yang didefinisikan oleh Williams lebih dekat ‘budaya’ sebagai keseluruhan cara hidup. Sebab ia menganjurkan agar kebudayaan diselidiki dalam beberapa term. Pertama, institusi-institusi yang memproduksi kesenian dan kebudayaan. Kedua, formasi-formasi pendidikan, gerakan, dan faksi-faksi dalam produksi kebudayaan. Ketiga, bentuk-bentuk produksi, termasuk segala manifestasinya. Keempat, identifikasi dan bentuk-bentuk kebudayaan, termasuk kekhususan produk-produk kebudayaan, tujuan-tujuan estetisnya. Kelima, reproduksinya dalam perjalanan ruang dan waktu. Dan keenam, cara pengorganisasiannya.

Jika dibandingkan dengan pendapat John Storey, konsep budaya lebih diartikan sebagai secara politis ketimbang estetis. Dan Storey beranggapan ‘budaya’ yang dipakai dalam CS ini bukanlah konsep budaya seperti yang didefinisikan dalam kajian lain sebagai objek keadiluhungan estetis (‘seni tinggi’) atau sebuah proses perkembangan estetik, intelektual, dan spritual, melainkan budaya sebagai teks dan praktik hidup sehari-hari (Storey, ­­2007: 2). Dalam hal ini nampaknya Storey setuju dengan definisi ‘budaya’ menurut Raymonds Williams, lain halnya dengan Stuart Hall yang lebih menekankan ‘budaya’ pada ranah politik. To say that two people belong to the same culture is to say that they interpret the world in roughly the same ways and can express themselves, their thoughts and feelings about the world, in ways which will be understood by each other. Thus culture depends on its participants interpreting meaningfully what is happening around them, and `making sense’ of the world, in broadly similar ways. (Hall, 1997: 2)

Dan, menurut Bennet istilah culture digunakan sebagai payung istilah (umbrella term) yang merujuk pada semua aktivitas dan praktek-praktek yang menghasilkan pemahaman (sense) atau makna (meaning). Baginya budaya berarti : “Kebiasaan dan ritual yang mengatur dan menetukan hubungan sosial kita berdasarkan kehidupan sehari-hari sebagaimana halnya dengan teks-teks tersebut-sastra, musik, televisi, dan film-dan melalui kebiasaan serta ritual tersebut dunia sosial dan natural ditampilkan kembali atau ditandai-dimaknai-dengan cara tertentu yang sesuai dengan konvensi tertentu.” (Bennet 1980: 82-30)

Demam teori muncul pada 1960-an di Perancis dengan perkembangan wacana baru yang terpancar dari belokan dari teori posstrukturalis. Dengan menolak teori-teori yang hendak mentotalisasi, menguniversalkan dan berpretensi ilmiah dari strukturalisme sampai marxisme dan berbagai “wacana utama” lainnya yang menghasilkan berbagai demam teori dan perang teori masa-masa awal .Kata “teori” berasal dari bahasa Yunani theoria, yang mengistimewakan penglihatan, dan karenanya salah satu fungsi teori adalah membantu kita dalam memandang dan menafsirkan berbagai kejadian atau fenomena. Karena itu, teori merupakan cara pandang yang menyediakan pengertian serta berbagai betuk penafsiran yang menyoroti fenomena, hubungan, atau sistem sosial tertentu secara keseluruhan.

Oleh karena itu pada konsep teori ini, teori dilihat sebagai peranti yang membantu kita untuk melihat, menggarap, dan menjelajahi wilayah-wilayah sosial tertentu, menyoroti berbagai fenomena yang mencolok, membangun hubungan, memaknai dan mengkritikdan mungkin menjelaskan dan memprakirakan berbagai keadaan. Teori juga memiliki banyak sumber untuk membincangkan berbagai pengalaman umum, wacana, praktik lembaga, dan hubungan sosial. Dengan demikian teori menerangkan realitas sosial dan membantu orang memahami dunianya. Teori menggunakan berbagai gagasan, citra, simbol argumen, dan narasi untuk melaksanakan tugasnya. metateori kontemporer (yaitu teori tentang teori) sering mencatatkan bahwa teori memiliki berbagai unsur kesusastraan.

Maka teori sosial merupakan heuristik untuk mengarikan dan memahami kehidupan sosial. Mereka menerangkan konteks dari tindakan sosial dan memandu masayrakata dalam hubungan sosial sehari-hari mereka. Teori sosial juga dapat menghubungkan fenomena dan artefak tertentu dengan menganilisis berbagai unsur penyusun, hubungan dan dampaknya.Teori sosila dialektis menghubungkan berbagai bagian yang terasingkan dari masyarakat, menunnjukkan, misalnya, bagaiamana ekonomi masuk ke dalam berbagai proses budaya dan menentukan teks seperti apa yang di produksi dalam industri budaya. Atau teori dialektis menunjukkan bagaimana mendengarkan musik sebenarnya dimediasi oleh teknologi, ruang budaya, dan lembaga tertentu.Teori sosial kritis dapat menggunakan konsep pengungkapan (articulation) untuk menunjukkan bagaimana beragam unsur kemasyarakatan diatur untuk mengahsilkan. Katakanlah hegemoni kaum konservatif atau untuk ketenaran Madonna.Oleh karena itu, ujian suatu teori adalah pada kegunaan, penyebaran, dan dampaknya. Dari sudut pandang ini, teori di anggap berguna atau tidak berguna, melalui penerapan dan dampaknya. Jadi, pendekatan kontekstual pragmatis dan multiprespektif bbekerja bersamaan untuk mengantar pembahas teoritis kepada beragam luas wacana dan metode. Berguna atau tidak bergunanya teori dan wacana tergantung pada isu yang dibahas, penerapan khusus teori tersebut ditangan pakar teori, dan tujuan-tujuan yang dimaksudkan.

 

  •   PENDEKATAN CULTURAL STUDIES

 

Sandi Suwardi Hasan dalam buku Pengantar Cultural Studies memaparkan bahwa metode dan pendekatan yang sering digunakan dalam cultural studies antara lain Marxisme , semiotika , analisis wacana, posmodernisme ( post-strukturalisme), pos-kolonialisme, feminisme dan lain sebagainya. Beberapa metode tersebut secara umum merupakan suatu pendekatan baru dalam ilmu pengetahuan yang mencoba menempatkan subjek bukan sebagai lawan dari objek , melainkan berupaya menjajaki  dan menggali potensi subjektivitas manusia dalam suatu objek konstruksi kesadaran yang bisa diambil potensinya untuk pembebasan diri menghadapi budaya kapitalis dan budaya menindas lainnya.Berbagai metode tersebut mencirikan perbedaan antara komunitascultural studies di berbagai tempat. Misalnya , cultural studies di Inggris ( tempat kelahiran cultural studies ) , misalnya  akan berbeda dengan yang di Amerika,Kanada, Asia Selatan,dsb. Perbedaan tersebut juga menetukan isu apa yang diangkat dan bagaimana gerakan intelektual dilakukan.

Dengan demikian, cultural studies lintas disiplin ilmu berangkat dari berbagai bidang yang saling tak berhubungan untuk menyusun teori mengenai kerumitan dan kontradiksi berbagai macam dampak dari beragam luas bentuk media/budaya/komunikasi dalam kehidupan kita, dan menunjukkan bagaimana berbgai artefak ini tidak hanya bertindak sebagai peranti penguasaan, namun juga menawarkan berbagai sumber daya bagi perlawanan dan perubahan.

  •   CULTURAL STUDIES INGGRIS DAN WARISANNYA

 

Seperti diungkapkan oleh Aronowitz (1993: 127 dst), cultural studies Inggris cenderung mengabaikan budaya tinggi, menghapusnya dengan beberapa perkecualian dari penyelidikan mereka. Dalam hal ini, beragam kualitas perlawanan dari beberapa bentuk budaya tinggi, khususnya modernisme kritis, sebuah reaksi estetik yang konon merupakan budaya tinggi dan rendah. Bagaimanapun cultural studies Inggris secara umum telah gagal melawan modernisme, atau berbagai bentuk lain budaya tinggi, dan karenanya mengabaikan berbagai potensi perlawanan dan pemberontakan, juga ideologi dalam karya-karya yang oleh beberapa praktisinya diremehkan sebagai budaya tinggi yang elitis.

Sejak tahun 1960-an cultural studies Inggris mulai menunjukkan bagaimana budaya media membentuk identitas serta berbagai cara pandang dan tindakan yang menyatukan orang-orang ke dalam budaya arus utama (Hall dan Whanel 1964). Dengan kata lain fokus cultural studies Inggris pada saat manapun ditengahi oleh berbagai pergulatan dalam kejadian politisnya masing-masing dan karya utama mereka yang berfokus seputar penguasaan dan perlawanan

 

  • Metodologi dan Pendekatan dan subyek kajian Cultural Studies

 

Pendekatan dan paradigma yang digunakan cultural studiesmenurut Barker adalah: etnografi (kulturalis dan mendasarkan pada pengalaman nyata), tekstual (semiotika, pascastrukturalis, dekonstruksi Derridean), dan studi resepsi (reception study, (eklektis). Sedangkan metode, secara keseluruhan, cultural studies memilih metode kualitatif, dengan fokus pada makna budaya. Mengikut karakter kualitatif yang beroperasi di ranah penemuan meanings (makna, yakni makna budaya) dari struktur pengalaman subjek, dan sejalan dengan pemikiran post-modernisme, maka karya-karya dan penelitian cultural studies menggunakan metode berpikir dinamis, kontekstual, plural dan lokal dan menghindari model berpikir linear, dualis dan statis. Metode berpikir ini merupakan dasar pijakan bagi karya cultural studies untuk menentukan metode (juga teori) yang sesuai.

Selanjutnya, subjek kajian dalam cultural studies tidak memiliki acuan yang pasti,. Sandi Suwandi Hasan (2016) mengatakan Curtural studies tidak memiliki suatu wilayah subjek yang Didefenisikan secara jelas dan terang. Ia hanya bertitik-pijak pada sebuah gagasan tantang budaya yang sangat luas dan sangat mencakup segala hal yang digunakan untuk menggambarkan dan mepelajari beraneka macam praktik keseharian manusia.Tak mengherankan jika ia berbeda dengan disiplin-disiplin ilmu yang konvensional, seperti sosiologi, filsafat, dan fisika, yang masing-masing memiliki wilayah subjek atau objek kajian yang memiliki garis-garis batasan cukup jelas. Cultural sudies tak memiliki subjek studi atau afiliasi disiplin ilmu yang tunggal. Chris Barker (2000) mengakui bahwa kajian budaya tidak memiliki titik acuan yang tunggal. Selain itu, kajian budaya memang terlahir dari indung alam pemikiran strukturalis/pascastrukturalis yang multidisipliner dan teori kritis multidisipliner, terutama di Inggris dan Eropa kontinental. Artinya kajian budaya mengkomposisikan berbagai kajian teoritis disiplin ilmu lain yang dikembangkan secara lebih longgar sehingga mencakup potongan-potongan model dari teori yang sudah ada dari para pemikir strukturalis/pascastrukturalis.

 

  •   Paradoks

 

Menurut saya, kehadiran selebriti indo dalam iklan sabun di Indonsia menjadi bersifat paradoks. Di satu sisi, mereka dijelaskan sebagai perempuan yang modern, berbudaya, dan berkulit putih, tapi bukan putih orang kulit putih sebenarnya, melainkan globalitas ‘putih’ mereka hanya terjadi di dalam lokalitas kebudayaan Indonesia. Terakhir, iklan sabun di Indonesia yaitu iklan sabun LUX dan GIV, selebriti indo direpresentasikan sebagai putih, berbudaya, global, dan universal di dalam lokalitas kebudaaan Indonesia.

 

Ø  Permasalahan sosial atau budaya dikehidupan sehari-hari

  1. Masyarakat pedesaan dan masyarakat perkotaan

Biasanya masalah yang terjadi di masyarakat pedesaan dalam bersosialisasi adalah kurang sarana untuk bersosialisasi dan yang ada sarananya hanya sarana yang sederhanan kurang modern dan hanya menyangkup jarak – jarak tertentu atau hanya masyarakat yang satu desa dan kurangnya pendidikan yang mendidik masyarakat pedesaan untuk mengenal saranan komunikasi yang modern. Cara mengatasinya adalah kita harus mensosialisasikan sarana komunikasi yang modern dan pemerintah segera menyediakan sarana komunikasi modern ke pedesaan secara merata.

Masalah yang terjadi di masyarakat perkotaan adalah biasanya banyak dari mereka yang menyombongkan diri sehingga banyak yang tidak mau berkenalan atau bercengkrama dengan masyarakat pedesaan karena menganggap masyarakat pedesaan merupakan masyarakat yang kurang gaul atau kurang mengenal yang modern. Cara mengatasi masalah tersebut adalah dengan cara mengubah cara berpikir kita tentang masyarakat pedesaan dan kita harus mau mengajarkan mereka atau mengenalkan mereka dengan sarana komunikasi yang modern, sehingga akan tercipta rasa bekerjasama dalam mengembangkan SDM atau sumber daya manusia, sehingga negara kita akan menjadi negara maju bukan hanya sedang berkembang.

Jadi semua masalah yang terjadi di masyarakat dalam bersosialisasi yaitu adanya rasa kurang percaya diri, kesombongan, ketidakmauan, dan kurangnya pengetahuan tentang teknologi.

 

 

 

 

 

 

Source :

Salam, Muslim.2012. Metodologi Penelitian Sosial Kualitatif:Menggugat Doktrin Kuantitatif.Makassar:Masagena Press

Kellner, Douglas.2010.Budaya Media: Cultural Studies,Identitas, dan Politik antara Modern dan Postmodern.Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan

Hasan, Sandi Suwardi.Pengantar Cultural Studies; Sejarah,Pendekatan Konseptual dan Isu Menuju Stui Budaya Kapitalisme

Barker, Chris.2012.Cultural Studies Teori dan Praktik.Yogyakarta:Kreasi Wacana

Prabasmoro, Aquarini Priyatna. (2003). Becoming White: Representasi Ras, Kelas, Feminitas, dan Globalisasi dalam Iklan Sabun. Yogyakarta: Jalasutra

 

http://www.kompasiana.com/afanda/konsep-budaya-dalam-kajian-budaya-cultural-studies_5501222c813311d019fa8246

http://wkwk.lecture.ub.ac.id/2015/10/metode-dan-teori-dalam-cultural-studies/

Wawan E. Kuswandoro | Perbandingan Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif

(16) PENGERTIAN METODE DAN METODOLOGI PENELITIAN | Muhammad Kurniawan – Academia.edu

http://rudicahyo.com/creative-learning/metodologi-dan-metode-penelitian/

(1)    Konsep Budaya dalam Kajian Budaya (Cultural Studies)

http://ajiprihandana.blogspot.co.id/2014/10/masalah-masalah-sosial-yang-terjadi.html

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s